Pak Didi, Kabisa, dan Kisahnya

Ketika ingin mencetak tugas, memfotokopi, atau sekadar ingin bersantai menikmati sebatang rokok bersama gorengan di pagi hari pasti teringat dengan Kabisa. Tentu sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa FTG Unpad dengan nama Kabisa ataupun yang bertugas di sana yaitu Pak Didi. Tapi sudah tahukah kalian bagaimana sejarah tentang Pak Didi, Kabisa serta kisah yang menyertainya?

Pak Didi saat usai diwawancarai Redaksi Geocentric di depan Kabisa (23/5/18). (Ihsan Ahmadi A./Geocentric)

Mohammad Didi Kodari atau yang akrab disapa Pak Didi lahir di Ciamis, 10 Juli 1985. Ia sudah bertugas di Kabisa sejak 2011 atau jika dihitung sudah 7 tahun ia mengabdi di sana. Mungkin banyak yang belum mengetahui latar belakang dari sosok Pak Didi. Sebelum menjadi petugas di Kabisa, ia sudah menjadi security di FTG Unpad sejak 2009 sampai 2014 sampai ia memutuskan untuk pensiun menjadi security karena kecelakaan yang membuat fisiknya tidak seperti dahulu. Namun ia bertutur jika ditawari pekerjaan untuk menjadi petugas tetap di Kabisa oleh pihak FTG.

Kabisa merupakan singkatan dari ‘Kahuripan Binekas Saballad’ atau jika diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘kehidupan untuk menuju kesuksesan bersama’. Koperasi yang sebelumnya bernama Kageo (Koperasi Geologi) ini merupakan koperasi milik dosen dan pegawai FTG Unpad. Hingga saat ini, Kabisa selalu menjadi pilihan utama mahasiswa FTG Unpad karena memang satu-satunya tempat yang menyediakan jasa percetakan tugas dan fotokopi di lingkungan FTG Unpad. Menurut Naufal Revanda (20), alasan ia sering menjadikan Kabisa sebagai pilihannya karena merupakan tempat nongkrong yang asyik sambil menunggu kelas dimulai atau sekadar jajan-jajan lucu, “Kalau saya sering ke Kabisa karena memang kebutuhan untuk ngeprint, selain itu juga bisa nongkrong sambil jajan makanan ringan ketika menunggu mata kuliah dimulai.” Tuturnya. Pendapat senada juga diungkapkan Pandu Bagastama (20), “Di Kabisa enak, ada segala macam rokok, Pak Didi juga friendly orangnya.” Ungkap Pandu ketika dimintai pendapat tentang Kabisa.

Pak Didi ketika tengah melayani seorang pelanggan. (Ihsan Ahmadi A./Geocentric)

Jika ditanya mengenai suka dan duka selama bekerja di Kabisa, Pak Didi berujar bahwa lebih banyak suka dibanding duka, “Sukanya karena bisa mengenal dan bergaul dengan mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia, sehingga lebih merasa muda.” Ujarnya. Namun suka dan duka selalu ada sebagai sebuah keseimbangan alam, ketika ia ditanya tentang duka, “Kan saya kerja sendiri di sini, mulai dari belanja kebutuhan Kabisa hingga melayani pelanggan. Tetapi terkadang ada juga mahasiswa yang tidak melihat keadaan dan ingin secepatnya dilayani,” Ucap Pak Didi. Semoga saja hal-hal yang berbau egoisme dapat diminimalisir oleh mahasiswa FTG Unpad agar tercipta suasana yang kondusif.

Keakraban Pak Didi Bersama mahasiswa FTG Unpad. (Ihsan Ahmadi A./Geocentric)

Terakhir ia berpesan kepada pembaca, “Hidup itu dinikmati, ikuti sesuai arus mengalir, yang penting benar, tidak usah neko-neko, beriman kepada Tuhan, nanti akan tahu jawabannya kayak gimana,” (M. Didi Kodari, 2018)

 

(Ihsan Ahmadi Atmoko/Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *