Melepas Lelah ke Batu Kuda

Aktivitas sehari-hari yang padat, apalagi kegiatan monoton dapat membuat seseorang merasa jenuh, tak terkecuali mahasiswa. Perkuliahan yang dimulai dari pagi hingga sore, dilanjut dengan kegiatan lain di luar kelas, pratikum, berikut menyelesaikan tugas kuliah yang diberikan dosen, menuntut mahasiswa untuk pandai dalam membagi waktu. Karena itu, waktu libur yang semestinya digunakan untuk bersantai mengistirahatkan otak, mungkin bersantai bersama teman-teman atau mengobrol dengan keluarga harus dikorbankan.

Memang tidak semua orang menganggap penting waktu untuk berlibur. Tetapi bagi yang lain, liburan merupakan hal penting yang harus ada dalam buku agenda. Tidak ada salahnya bagi mahasiswa menggunakan waktu libur untuk mengistirahatkan diri, setelah sepekan menenggelamkan pikiran untuk menyelesaikan tugas yang cukup menguras tenaga. Memilih berlibur ke Wana Wisata Batu Kuda Manglayang mungkin bisa menjadi pilihan.

Wana Wisata Batu Kuda, tempat wisata ini cukup menarik. Biaya yang murah juga merupakan salah satu hal yang jadi pertimbangan kalian harus memilih lokasi ini. Tempat ini berlokasi di Cibiru Wetan, Cileunyi, Bandung atau sekitar 25 menit dari Jatinangor jika ditempuh dengan motor. Untuk kalian yang belum pernah kesana dan berangkat dari Jatinangor kalian bisa melelewati rute dari Jatinangor ke Cileunyi lalu belok kanan ke Jalan Sadang. Dari sana kalian tinggal mengikuti jalan hingga tempat wisata Batu Kuda. Jangan khawatir, walaupun berkelok-kelok dan cukup sempit, jalan menuju ke Batu Kuda ini sudah beraspal, jadi kalian tidak perlu takut apabila akan mengendarai kendaraan sendiri.

Wana Wisata Batu Kuda yang dikelilingi oleh pohon pinus. (Aisyah Shafa V./Geocentric)

Saat tiba, kalian akan melihat pohon pinus dengan batang berdiameter 75 cm hingga 100 cm, berdiri tegak seperti berbaris menjadi benteng di sekeliling Batu Kuda. Udara segar yang membawa serta aroma hutan segera “menyerbu” rongga paru-paru. Hutan pinus inilah yang membuat udara tetap segar, meski matahari sudah cukup terik untuk menusuk ubun-ubun.

Biaya masuk ke Wana Wisata Batu Kuda sangat terjangkau hanya Rp. 7500 perorang untuk sekedar berwisata, berjalan di bawah rerimbunan pohon pinus, dengan sesekali mengobrol dibawah pohon pinus. Atau kalau kalian ingin menikmati pemandangan alam seharian, kalian dapat membayar  Rp. 10.000 untuk camping. Kalian dapat camping dan membangun tenda di bawah canopy pinus. Jika tidak memiliki peralatan camping, jangan khawatir, kalian masih bisa camping di sini. Caranya? Ya, sewa saja peralatan camping pada pengelola wisata Batu Kuda. Harganya? Jangan takut, masih bisa dijangkau oleh mahasiswa. Tapi kalo kalian memang benar-benar tidak memiliki uang atau… ya berlagak sedikiti kikir berbagi, kalian dapat meminjam alat dari teman yang kebetulan kalian kenal.

Soal fasilitas umum seperti toilet dan musholah pun tidak perlu dikhawatirkan, pengelola sudah menyediakan semuanya. Jangan kaget saat hendak menggunakan air untuk membersihkan diri atau wudhu, sebab air di sini lumayan dingin. Tahu sendirilah dimana-mana di Bandung, bahkan di Jatinangor airnya cukup dingin menurut orang-orang dari luar Jawa Barat. Jangan khawatir juga jika kalian lapar, walau tempat wisata ini bernuansa alam bebas yang dipenuhi pohon-pohon tinggi, wisata Batu Kuda ini tetap menyediakan warung-warung dengan menu yang beragam rasa. Yang lebih asyik lagi, kalian dapat menyantap makanan di bangku-bangku panjang sambil sesekali mengobrol dengan teman. Dan ini, untuk para penikmat kopi, kalian bisa menyeruput kopi sambil menghirup udara segar dengan tarikan napas yang panjang-panjang.

Suasana malam hari saat camping. (Devina Giovanni/Geocentric)

Kalian para pecinta keindahan alam yang nyaris tanpa hiruk pikuk, kami sarankan kalian untuk berkunjung ke tempat ini. Lebih pagi lebih baik, bagus kalau bisa menginap di sana, suasana lebih baik. Selain kicauan burung dan suara jangkrik, tempat ini masih sangat sepi cenderung tidak banyak cakap sehingga kalian dapat mendengarkan “bisikan” alam secara sempurna. Saat matahari mulai merangkak naik, artinya hari sudah siang. Saat orang-orang yang datang semakin banyak, saat itulah kalian telah menikmati pagi bersama alam. Ulah anak-anak yang kegirangan menjadi tontonan lain yang memanjakan mata dan menyegarkan otak. Lebih indah lagi ketika matahari mulai terbenam. Keadaan lumayan lengang, mulai terdengar suara jangkrik bersautan, sinar matahri muncul dari celah antar pohon-pohon pinus. Di saat itu suara bisikan dengan teman adalah keasyikan yang memperkaya batin. Pertemanan menjadi lebih berarti saat kita menikmati suasana yang sama, namun menghasilkan pengalaman yang berbeda. Itulah kenapa, walau kita melihat dan menikmati suatu keadaan alam sama, kita pulang membawa cerita yang berbeda. Kita bercerita seakan masing-masing dari kita pulang dari tempat yang berbeda.

Bagaimana,  menarik bukan mencoba berlibur ke tempat wisata dengan suasana yang sulit kalian dapat di perkotaan? Tidak perlu berpikir dua kali untuk memilih tempat ini, karena di tempat ini kalian dapat melepas kepenatan pikiran yang selama ini membebani.

 

(Aisyah Shafa V./Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published.