Kawan Bhinneka, Memupuk Toleransi di Indonesia

Dilansir tirto.id, menurut survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 56% guru tidak setuju Non-Muslim mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka. Sementara  33% guru setuju untuk menganjurkan berperang guna mewujudkan negara Islam. Masih banyak lagi hasil survei dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyatakan ancaman guru intoleran di Indonesia. Ketika guru, yang seyogianya digugu dan ditiru ini tidak dapat menyebarkan semangat toleransi, maka terbentuklah Kawan Bhinneka, sebuah organisasi non-profit yang bertujuan untuk menyebarkan semangat “Bhinneka Tunggal Ika” kepada anak-anak di Indonesia.

Kawan Bhinneka, organisasi yang lahir pada pertengahan 2018 dan berbasis di Jatinangor serta Bandung ini baru saja mengadakan sebuah acara yakni Kawan Bhinneka Bercerita pada Minggu, 21 Oktober 2018 bertempat di Sono Creative Space, Jatinangor. Acara ini merupakan sebuah wujud keresahan terhadap maraknya tindakan intoleran di Indonesia. Acara yang dihadiri 25 anak-anak yang berasal dari Jatinangor EduCare yang di dalamnya terdapat kelas mengaji dan Muda Mudi Katolik Santo Paulus yang notabene merupakan sekolah minggu bagi anak-anak beragama Katolik, “Harapannya walaupun berbeda agama tapi mereka dapat bermain bersama dan ditanamkan nilai bahwa mereka semua itu sama saja sebagai manusia.” Ujar Adhia Rana (Adey), Project Officer Kawan Bhinneka Bercerita.

Keseruan anak-anak ketika bernyanyi dan menari pada acara Kawan Bhinneka Bercerita (21/10/18). (Ihsan Ahmadi A./Geocentric)

Acara dibuka dengan menyanyikan sebuah aransemen dari lagu Di Sini Senang Di Sana Senang, “Berbeda bahasa, berbeda budaya, kita di sini semua sama,” Itulah penggalan dari lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak pada acara tersebut. Lagu itu hanya sebagai pengantar saja dan bukan merupakan konten utama pada acara ini, acara utamanya adalah pembacaan buku cerita yang berjudul “Christopher dan Teman-teman Barunya” Buku setebal 20 halaman ini, ya intinya pasti tentang toleransi, hanya saja dikemas sedemikian ringan agar anak kecil mudah untuk mencerna isi dari buku tersebut. Pembacaan cerita ini juga tidak datar-datar saja, dikemaslah dalam bentuk peragaan seperti wayang, serta permainan intonasi dan mimik pun sangat diperhatikan dalam pembacaan ini. Harapannya tetap sama, membuat anak kecil tidak bosan dan bisa mencerna nilai-nilai baik pada cerita tersebut.

Salah seorang anggota Kawan Bhinneka sedang bercerita mengenai buku “Christopher dan Teman-teman Barunya”. (Ihsan Ahmadi A./Geocentric)

Kegiatan selanjutnya adalah menggambar dan mewarnai, yang dipandu oleh kakak fasilitator. Tidak hanya nilai toleransi saja yang ditanamkan pada acara tersebut, nilai-nilai sebagai manusia yang beretika juga tetap ditanamkan, seperti pembiasaan menggunakan kata maaf dan terimakasih.

Kegiatan ketika anak-anak menggambar dan mewarnai. (Ihsan Ahmadi A./Geocentric)

Adey, sapaan akrab Adhia Rana berharap bahwa gerakan ia dan teman-temannya dapat menginspirasi gerakan gerak lainnya, dan juga dapat memperluas ruang lingkup dari kegiatan ini, “Harapannya nanti kita bisa bikin acara dengan target semua agama di Indonesia, dan juga semoga isu radikalisme dan intoleransi dapat menurun dalam jangka watu 10 sampai 15 tahun mendatang serta Indonesia dapat mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya.”Ujar Adey. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, mendidik mereka berarti juga berdampak untuk Indonesia ke depannya, tidak ada yang tidak mungkin untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik lagi.

 

(Ihsan Ahmadi Atmoko/Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *