Sampah Celsi, Habis Makan Lupa Dibuang

Jika kamu anak Fakultas Teknik Geologi, kata Celsi pasti tidak asing lagi terdengar di telinga. Tempat ini bukan hanya sekadar tempat makan, namun juga tempat nongkrong, rapat, atau bahkan acara organisasi. Berbagai aktivitas bisa dilakukan di sini, tidak heran jika Celsi tidak pernah sepi. Ditambah lagi, makanan yang disajikan juga sangat beragam, lezat dan sesuai dengan kantong mahasiswa. Walau terkadang kamu harus sedikit berusaha agar bisa duduk dan makan dengan nyaman apalagi saat jam-jam istirahat, melihat situasi pengunjung Celsi yang tidak hanya dari mahasiswa Teknik Geologi tapi juga dari fakultas lain. Namun, bagi kalian yang memiliki banyak kegiatan di kampus, Celsi dapat dijadikan salah satu opsi tempat yang pas untuk menunggu.

Suasana Celsi menjelang jam makan siang. (Bunga Raissa/Gecocentric)

Sayangnya, fasilitas yang disediakan dengan cuma-cuma ini justru tidak dirawat dengan baik. Sampah bekas jajan, puntung rokok bahkan piring sehabis makan hanya diletakkan begitu saja. Mungkin bagi beberapa mahasiswa Teknik Geologi, pemandangan seperti ini merupakan hal yang biasa. Padahal, sebagai mahasiswa kita harusnya sudah paham betul untuk hal-hal sepele mengenai kebersihan, dimana membuang sampah pada tempatnya merupakan “makanan sehari-hari” yang tidak perlu diajarkan lagi. Namun buktinya, sampai saat ini masih banyak sampah menumpuk yang akhirnya  menghilangkan suasana nyaman pada tempat makan. Yang lebih sedihnya lagi, tempat di sekitar Celsi seperti selasar gedung satu juga terkena dampak oleh mereka yang senang membuang sampah sembarangan. Piring bekas makan yang harusnya mampu dikembalikan ke tempatnya diletakkan begitu saja alhasil membuat akses keluar-masuk menjadi terhambat.

Sampah bekas jajan yang tidak dibuang ke tempatnya. (Bunga Raissa/Gecocentric)

Siapapun pasti tahu dan sudah sepatutnya berada di luar kepala, bahwa tempat yang tidak bersih akan mendatangkan berbagai penyebab penyakit. Tempat yang kotor juga membuat makanan yang disajikan lezat menjadi tidak nikmat karena lingkungannya yang tidak mendukung. Terlebih lagi, Kantin Celsi tidak hanya didatangi oleh mahasiswa melainkan karyawan, dosen Fakultas Teknik Gologi bahkan fakultas lain. Jika tempat yang berada di area kampus tidak nyaman, hal ini akan memunculkan persepsi buruk orang terhadap kita. Sehingga, bisa dibilang kebersihan juga menjadi salah satu bentuk dari “wajah” fakultas kita.

Sebagai mahasiswa kita harus bersikap lebih dewasa, apalagi untuk tempat yang merupakan “rumah” kita sendiri. Walaupun sudah disediakan petugas kebersihan, tidak ada salahnya jika kita juga membantu dalam menjaganya. Apalagi sudah disediakan tong sampah yang diletakkan terjangkau, sehingga kita bisa membuangnya dengan mudah. Hilangkan pemikiran bahwa makanan yan kita beli akan diurus oleh petugas kebersihan, jadi kita tidak perlu repot-repot untuk membersihkannya. Pemikiran pendek itu, bukan pola pikir seorang mahasiswa. Berhenti bergantung pada orang lain, mulailah dari diri sendiri. Jika tong sampah tidak tersedia, kantongi bungkus makanan yang dibeli  dan buang saat ada tempat sampah.  Biasakan juga membuang puntung rokok ke dalam tong sampah, bukan dalam got atau di tanah. Yang paling simpel adalah piring bekas makan, kamu bisa menyusun piring-piring tersebut sehingga meja terlihat rapih dan memudahkan saat diangkat. Akan lebih baik lagi kalau dikembalikan ke tempat kamu membeli.

Bagaimana, tidak sulit bukan? Jika belajar untuk masuk ke Fakultas Teknik Geologi saja bisa, berarti untuk hal sekecil menjaga kebersihan Kantin Celsi merupakan sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah. Kalau kalian nyaman dengan suasana yang kotor berarti ada yang salah dan harus diubah dari diri kalian. Yuk, rawat baik fasilitas yang diberikan untuk kenyamanan kita semua.

 

(Aisyah Shafa Virgianty / Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published.