Kuliah Daring? Efektifkah?

Tahun 2020 menjadi tahun yang penuh dengan tantangan bagi Indonesia, bahkan negara di seluruh belahan dunia. Berbagai kejadian bencana seperti banjir Jakarta, adanya isu perang dunia ketiga, anjloknya perekonomian dunia dan jatuhnya harga minyak, serta salah satu bencana terbesar yang mungkin ada di abad ke-21 yaitu pandemi Coronavirus Disease (COVID-19).

Pandemi COVID-19 telah menjadi berita terbesar hingga detik ini yang melanda seluruh belahan dunia. Berbagai sektor mendapatkan imbas dari musibah ini. Pemerintah pun telah membuat kebijakan agar masyarakat melakukan physical distancing. Kebijakan tersebut menyebabkan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan keramaian dilarang. Dampak yang paling dekat ada di sekitar kita yaitu tidak adanya kegiatan belajar mengajar di kampus.

Lalu bagaimana sistem pembelajaran mahasiswa saat ini? Berbagai universitas telah membuat kebijakan yaitu dengan diadakan kuliah online atau daring. Berbagai media yang berbasis internet pun dijadikan sebagai sarana belajar, salah satunya Zoom. Zoom merupakan aplikasi yang banyak digunakan untuk kuliah online. Jika dosen memberikan tugas, maka akan diberikan kode melalui Google Classroom untuk membuka file yang sudah disiapkan. Kuliah online menjadi pengalaman baru yang dirasakan oleh mahasiswa. Pro dan kontra pasti ada dalam setiap kebijakan baru yang telah ditetapkan.

lustrasi kuliah daring. (pinterest.com)

Setelah satu minggu kuliah daring dilaksanakan, berbagai kendala muncul. Hal yang dikeluhkan oleh mahasiswa yaitu banyaknya tugas yang diberikan. Tugas menjadi senjata utama dosen untuk mengisi materi kuliah. Tidak dipungkiri mahasiswa mengalami kelelahan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. “Gua sampai sekarang belum pernah kuliah online, tugas mulu.” Ucap Narendra (20) HMG 2017. Masalah lain yang terjadi adalah koneksi internet.  Menurut Sultan (19) HMG 2018 “Ya gitu bang, hambatannya di koneksi atau kadang juga banyak bug.

Kuliah daring merupakan sarana yang tepat untuk tenaga pengajar atau dosen dalam meningkatkan kemampuan dan kreativitas pada bidang informasi dan teknologi. Menurut Kang Ridfan salah satu tenaga pengajar di Fakultas Teknik Geologi, jika materi yang diberikan dalam bentuk Power Point atau PDF  maka perlu diiringi dengan penjelasan dosen menggunakan voice note atau video recorder. “Idealnya kuliah daring memang menggunakan Zoom, namun jika ada keterbatasan sinyal kegiatan tatap muka akan mengalami kendala. Maka, perlu menggunakan media lain seperti Power Point atau PDF yang diiringi dengan penjelasan dosen menggunakan voice note atau video recorder.” Ungkap Kang Ridfan (24) HMG 2013. Ia juga menambahkan, “Untuk meningkatkan efektivitas dalam kuliah daring, perlu ada grup WhatsApp tiap mata kuliah yang ada dosennya. Mau seangkatan atau sekelas jadi enak kalau ada info dan lain-lainnya, plus tempat tanya jawab di luar perkuliahan. Yang kedua, absensi harus jelas sesuai hari dan sesuai materi yang akan dijelaskan dosen. Jangan mengisi absen tapi belum paham minggu itu materinya tentang apa. Jadi judulnya jelas.”

Pada intinya, kuliah daring maupun kuliah tatap muka biasa adalah kita sama-sama belajar. Semua pasti ada positif dan negatifnya, jalani saja apapun yang ada di depan mata kita.

 

(Najmuddin Haikal Fikri/Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published.