Cerdas Dalam Menyikapi Wacana Tatanan Normal Baru (New Normal Order)

Tahun 2020 mungkin bisa dikatakan sebagai bagian tersulit yang dialami oleh beberapa generasi, mulai dari Generasi X hingga Generasi Alpha. Belum genap mencapai setengah tahun di tahun 2020 ini  bumi yang kita pijak telah mengalami berbagai deretan peristiwa seperti banjir yang melanda sekitaran kawasan DKI Jakarta, kebakaran hutan di Australia, isu-isu ancaman peperangan di kawasan Timur Tengah, hingga pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) yang melanda hampir di seluruh penjuru dunia dan tak kunjung mereda.

Gambar 1. Ilustrasi New Normal Life. (Sumber: jatim.tribunnews.com)

            COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Severe acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-Cov-2). Berbagai gejala yang berbeda-beda kemudian digembar-gemborkan oleh media, sebagian kecil menumbuhkan kewaspadaan tetapi sebagian besar justru menimbulkan ketakutan dan kegelisahan. Pasalnya, gejala-gejala tersebut seperti flu, batuk kering, sakit tenggorokan, dan demam merupakan gejala yang umum terjadi. Rasa takut membuat sebagian orang menjadi mudah untuk mendiagnosa diri, hal itu justru malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Berbagai spekulasi mulai dari yang berbasis penelitian hingga teori konspirasi pun ramai membanjiri media saat ini. Tujuannya sama, yaitu saling bahu-membahu menghentikan laju penularan atau mungkin menemukan “sosok” di balik layar yang berperan dalam skenario Covid-19 ini. Akan tetapi setelah sekitar setengah tahun pun tak cukup untuk memerangi pandemi ini. Lantas apakah akan terus seperti ini?. Atau akankah ada fase yang serentak ditetapkan nanti?.

            Berbagai sektor “dilalap” oleh kejinya pandemi ini. Pendidikan, ekonomi, industri, dan sosial merupakan bidang yang paling terkena dampaknya. Banyak yang menyalahkan pemerintah karena dicap lalai dalam menghadapi kasus Virus Corona ini, padahal pemerintah pun sudah berusaha dalam menanganinya. Berbagai kebijakan yang ditetapkan diambang ketidakpastian ini justru menimbulkan pertanyaan karena ada beberapa ketidakjelasan, salah satunya mengenai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan PSBB dinilai paling efektif dalam mengurangi laju penularan Virus Corona, akan tetapi dalam pengaplikasiannya masih ada beberapa poin yang rancu bahkan memunculkan beberapa pertanyaan dari masyarakat. Lantas penetapan kebijakan seperti apalagi yang harus pemerintah Indonesia atau bahkan seluruh penjuru dunia tetapkan?.

Gambar 2. Penerapan Protokol Kesehatan. (Sumber: indonesia.go.id)

            Sejumlah ahli memprediksi bahwa pandemi ini bisa saja berlangsung lama, hal ini dikarenakan belum ditemukannya vaksin yang pasti untuk menanggulanginya. Alih-alih  menanggapi hal tersebut, dewasa ini justru seluruh warga dunia sedang ramai memperbincangkan bahwa akan ada tatanan kehidupan yang akan dilakukan. Sejumlah ahli menyebut kondisi tersebut dengan tatanan normal baru atau new normal order. Banyak yang masih bertanya-tanya tentang definisi nyata dari statement tersebut karena hal itu mungkin masih bersifat multitafsir bagi setiap orang yang berusaha memahaminya. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, menjelaskan bahwa new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

            Sebagai masyarakat yang sudah semestinya mengikuti anjuran dari pemerintah, kita harus cerdas dalam menyikapi tentunya diawali dengan mempersiapkan diri dari sekarang. Kesehatan menjadi salah satu tuntutan utama dalam menghadapi fase new normal ini. Maka dari itu kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan menjadi kunci utama. New normal  pula seringkali dianggap sebagai strategi dari herd immunity atau membiarkan suatu kelompok terinfeksi Virus Corona dan menciptakan kekebalan sendiri. Karena penerapan new normal seharusnya dijalankan dengan syarat virus tersebut sudah terkontrol dan stabil, tetapi kenyatannya laju penularan masih terus bertambah. Terlepas dari itu, imun memang sangat penting dalam memerangi Virus Corona ini. Maka dari itu, pembiasaan pola hidup sehat seperti mencuci tangan pakai sabun, menjaga pola makan sehat, rajin berolahraga walau #dirumahaja, dan keluar rumah seperlunya dengan memakai masker merupakan langkah utama dalam mempersiapkan new normal life. Selain itu, mindset menjadi pondasi lainnya, karena banyak yang salah arti dalam menjalani fase ini. Buktinya, masih dalam tahap perencanaan atau masih dalam tahap pelonggaran PSBB masyarakat malah berbondong-bondong menyerbu tempat yang ramai seperti mall dan kafe, karena mungkin mereka menganggap bahwa new normal itu merupakan keadaan yang normal seperti sediakala. Terakhir yaitu lakukanlah hal-hal produktif di rumah seperti memperbanyak literasi, merancang plan apa yang akan dilakukan setelah pandemi berakhir contohnya seperti business plan, dan masih banyak lagi.

            Sebagian besar dari kita mungkin mengeluhkan bahwa diam di rumah saja menyebabkan stres dan alternatifnya adalah dengan memberanikan diri keluar rumah menuju tempat yang ramai. Sebenarnya, jika selalu taat terhadap protokol kesehatan hal itu bukan menjadi masalah, karena pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang harus banyak berinteraksi dan mencari sumber penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika nantinya kebijakan new normal mutlak diterapkan, dewasalah dalam menyikapinya. Karena skenario kemungkinan adanya second wave bisa saja terjadi. Memang benar mencari kebahagiaan itu sulit, tetapi kebahagiaan dapat diciptakan dengan sendirinya jika kita cerdas dan selalu berlandaskan positive mindset dalam menyikapi segala persoalan.

 

(Albi Hilal Asyari/Geocentic)

Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published.