Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Dunia Geologi

Gambar 1. Ilustrasi Penanggulangan COVID-19 (Sumber: pinterest.com)

World Health Organization (WHO) telah mengumumkan bahwa Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 merupakan pandemi yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maka dari itu, banyak negara yang membuat kebijakan terkait penanggulangan pandemi ini seperti lockdown dan social distancing. Tentu saja pemerintah Indonesia juga menerapkan hal yang sama dan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menangani pandemi ini. Dampak dari pandemi ini tidak hanya persoalan kesehatan tetapi juga berdampak pada berbagai sektor yang lainnya, seperti ekonomi dan pendidikan.

Universitas Padjadjaran juga turut andil menangani pandemi ini secara serius dengan memulangkan seluruh mahasiswanya untuk mengisolasi diri di rumah masing-masing dan mengubah sistem pembelajaran menjadi pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan platform online, seperti Zoom, Google Meet dan lainnya. Kebijakan tersebut diinformasikan melalui surat Rektor dan berharap akan berjalan secara efektif. Namun, ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya karena masih ada beberapa daerah dengan koneksi internet yang kurang stabil sehingga menghambat proses pembelajaran.

Begitupun dengan mahasiswa Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran yang mengeluhkan hal yang sama, belum lagi persoalan praktikum yang tidak dapat dilaksanakan secara tatap muka dan mengharuskan para mahasiswanya untuk melakukan praktikum secara online. Menurut Tiwi Oktarisma (20), selaku asisten Laboratorium Sedimentologi Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran, mengatakan bahwa adanya kabar tentang praktikum online ini adalah hal yang tak terduga. Menurutnya, praktikum yang dilakukan secara online tidak hanya berdampak pada mahasiswa yang melaksanakan praktikum tetapi asisten laboratoriumnya pun turut terkena dampaknya. Seharusnya sebelum melakukan praktikum, praktikan harus menyatukan pikiran agar materi yang disampaikan sama dengan semua kelompok tetapi karena situasi sedang genting seperti saat ini hal tersebut menjadi sedikit hambatan. Beruntungnya para asisten laboratorium cepat dalam mengambil keputusan dengan menyiapkan materi berbasis online dan memanfaatkan fitur dari platform yang digunakan, seperti fitur whiteboard di Zoom, melalui video, gambar, dan lain sebagainya, dengan harapan agar para praktikan dapat memahami materi dengan baik. Walaupun beberapa mahasiswa mengeluhkan bahwa jika dilakukan secara online mereka menjadi kurang paham materi yang disampaikan, tetapi semua pihak sudah berupaya agar pembelajaran jarak jauh ini efektif. Dalam kuliah tatap muka, biasanya mahasiwa akan sangat aktif melakukan diskusi seputar materi perkuliahan yang baru disampaikan oleh dosen. Tetapi berbeda dengan kuliah online ini yang membuat mahasiswanya merasa terbatas dan tidak nyaman untuk melakukan diskusi lebih lanjut. Selain itu, beberapa mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan tugas akhirnya pun turut terkena dampak dari pandemi ini karena harus tertunda dalam menyelesaikan tugas akhir.

Tidak hanya dalam sektor pendidikan yang melakukan kegiatan dari rumah tetapi beberapa perusahaan dan perkantoran juga memberlakukan sistem yang sama. Seperti salah satu perusahaan yang bergerak di bidang energi terintegrasi, yaitu MedcoEnergi yang memberlakukan sistem bekerja dari rumah untuk seluruh karyawannya dan diperbolehkan untuk membawa fasilitas khusus seperti personal computer ke rumah masing-masing. Menurut Viska Triaraminta Dewi (23), selaku alumni Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran yang sekarang sedang menjalani internship di MedcoEnergi mengaku bahwa ia tidak terkejut dengan keadaan seperti ini karena sudah memperkirakan sejak awal tahun bila pandemi COVID-19 ini akan sampai ke Indonesia serta dampaknya adalah bekerja dari rumah. Dia juga berkata bahwa salah satu resiko bekerja dari rumah adalah adanya limit untuk mengakses pekerjaan yang seharusnya ia bisa kerjakan lebih maksimal di kantor dengan keadaan normal.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sektor industri juga mengalami perlambatan ekonomi termasuk sektor pertambangan dan perminyakan. Dengan adanya pembatasan sosial yang terjadi akibat pandemi COVID-19, mengakibatkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang ini melakukan pemberhentian sementara yang berakibat pada berkurangnya produksi karena kurangnya supply dari beberapa komoditas. Tidak hanya dari sisi produksi tetapi dari sisi konsumen juga, yaitu berkurangnya permintaan karena adanya perlambatan ekonomi di negara-negara importir. Selain itu, beberapa perusahaan mulai khawatir akan keadaan pasar yang kurang stabil karena melihat tidak adanya kepastian kapan pandemi ini akan berakhir mengakibatkan kewaspadaan setiap perusahaan yang bergerak di bidang ini terhadap prospek ke depannya.

Melihat dari semua dampak dan kemungkinan yang akan terjadi, kami berharap pandemi ini akan segera usai agar semua sektor dapat kembali stabil. Teruntuk kita semua calon geologist, kita harus bisa melihat kondisi dunia kerja di bidang geologi dan memperkirakan prospek mana yang akan berkembang ke depannya, karena tidak bisa dipungkiri bahwa dunia geologi sangat besar kemungkinannya untuk mengalami naik turun terutama pada bidang industri energi dan pertambangan. Oleh karena itu, kita harus lebih banyak lagi belajar dan mengembangkan skill yang kita punya sembari menunggu pandemi ini berakhir dan dunia mulai stabil kembali.

 

 

(Jihan Intan Anastasya/Geocentric)

Sumber:

-kompas.com

-duniatambang.co.id

-kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.