Ketika Amethyst Mendobrak Stereotip Garang Mahasiswa Geologi

A: “Geologi tuh kan garang sama keras.”

B: “Ya, terus?”

A: “Emang bisa bawain yang lemah gemulai?”

B: “Ya bisa keles makanya ada Amethyst juga!”

 

Siapa yang tidak mengenal amethyst atau batu kecubung? Mungkin sebagian besar orang mengenalnya sebagai nama dari suatu kristal kuarsa cantik berwarna ungu. Namun, bagi warga HMG, amethyst bukan hanya nama sebuah kristal yang cantik. Lantas, amethyst seperti apakah yang dimaksud oleh warga HMG?

Bagi warga HMG, Amethyst adalah suatu Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM) yang berada di bawah naungan Divisi Kesenian, Kementerian Minat dan Bakat, Himpunan Mahasiswa Geologi (HMG) Unpad. Amethyst sendiri berfokus pada seni tari tradisional. Pada kepengurusan tahun ini, Amethyst memiliki enam orang anggota. Ingin mengenal Amethyst lebih jauh lagi? Kalau begitu, ayo simak penjelasan di bawah ini tentang Amethyst!

Amethyst pertama kali dibentuk di tahun 2011 oleh Kemala Wijayanti atau yang akrab disapa Bu Keke atau Teh Keke, yaitu alumni HMG angkatan 2009 yang sekarang menjadi dosen di Fakultas Teknik Geologi (FTG). Amethyst sendiri awalnya dibentuk karena adanya Olimpiade Olahraga Tradisional (Ootrad) antarfakultas di Unpad,  di mana terdapat salah satu mata lomba yaitu tari tradisional. Pihak fakultas meminta Bu Keke untuk mengkoordinir peserta tari, sehingga Bu Keke mengajak para mahasiswi FTG angkatan 2011 yang berminat di tarian tradisional. Awalnya, kelompok tersebut telah terbentuk karena mereka kagum akan penampilan Bu Keke dan Girly, salah satu mahasiswi FTG angkatan 2011 yang menampilkan Tari Jaipong di makrab angkatan 2011. Kelompok tersebut juga selalu melakukan latihan rutin. Febby, mahasiswi angkatan 2011 mengajukan kegiatan tari tersebut menjadi suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kepada BEM HMG. “Amethyst sendiri diambil namanya dari nama mineral, waktu itu idenya muncul setelah kegiatan mabim angkatan 2011 di Museum Geologi, di sana lihat display mineral-mineral. Karena amethyst kenampakannya bagus, warnanya juga feminim, jadi kita sepakat ambil nama itu.” Jelas Bu Keke saat ditanya tentang alasan mengambil nama Amethyst.

Setiap latihan, Amethyst dilatih langsung oleh Bu Keke. Amethyst biasanya latihan setelah jam pembelajaran usai di ruang kelas dan di depan tangga Gedung 1, bahkan pernah di Laboratorium Paleontologi. “Nah, kalau ini sebetulnya waktu itu kondisi saya memang sedang hamil besar, sekitar 7-8 bulan. Biasanya kalau latihan itu kan di ruang kelas, tapi di FTG ini ruang kelasnya di lantai 3 jadi ya berat juga kalau harus naik tangga ke lantai 3. Karena kebetulan waktu itu gak ada perkuliahan juga, mahasiswa sepi, jadi ya bisa pake lab. Sebetulnya dimana aja sih kalau untuk latihan yang sekiranya kondusif.” Tutur Bu Keke.

 “Terakhir banget Amethyst tampil itu kalau gak salah pas banjir di Jatinangor sekitar Januari 2020. Nah pas itu kita lagi diundang sama SAR buat penutupan acara kayak studi banding mereka sama universitas di Malaysia.” Tutur Andini, Ketua Amethyst 2020. “Kalau pas (kepengurusan) dipegang sama Andini tuh baru tampil di acara alumni 2020 kalau gak salah yang pas hujan, terus di acara SAR. Tapi, kalau acara lomba gitu banyaknya sama kepengurusan sebelumnya.”

Amethyst di Acara HMG Awards 2019 (Rafika Fazrina/HMG)

Sebelum pandemi, Amethyst sering tampil di berbagai acara tahunan setiap Student Chapter, seperti Trapspot oleh AAPG, Boreyes oleh SPE, dan Hardrock oleh SEG. Amethyst juga sering mengikuti lomba Forsi Unpad. “Gak pernah dapat juara (Forsi Unpad), karena emang persiapannya kurang dan waktu itu Teh Keke mau jadi dosen juga, jadi waktu latihannya mepet banget. Terus kita gak banyak referensi tarian jadi ya monoton gitu.” tutur Kintan Adelia, alumni HMG angkatan 2016 yang pernah menjadi bagian dari Amethyst.

Amethyst di Acara Forsi Unpad 2017 bersama Bu Keke (Kintan Adelia/HMG)

Bagaimana kesan Amethyst bagi Andini dan Kintan? “Bingung deh. Paling jadi tempat buat menghilangkan stress selama kuliah, karena emang udah suka banget sama nari, jadinya dengan bergerak, mendengarkan musiknya, sama interaksi sama anggota-anggota juga jadi penghilang stress tersendiri kalo buat Andini, sama sebagai sumber jajan.” Jelas Andini. Begitu juga dengan Kintan, ia mengatakan bahwa Amethyst dapat membuatnya belajar tarian baru, tampil di depan banyak orang, dan dapat menambah kenalan baru terlebih senior.

Andini berbagi kisah yang menurutnya paling berkesan dan lucu. “Kita tuh beres tampil disuruh ganti bajunya di salah satu kamar hotel di tempat acara tersebut, udah tuh kan kita berempat bawa kantong terus masih pake kostum lengkap menuju kamar. Nah si pintu kamarnya tuh dibukanya pake kartu, kita sebenernya udah dikasih no kamarnya dan enggak salah denger. Terus bener-bener kayak 10 menit itu pintu gak bisa dibuka terus kayak akses ditolak, kita sampe ke resepsionis buat nanya ini kenapa gak bisa dibuka kamarnya, keadaan di situ kita masih pake baju lengkap bener-bener gak tahu malu keluyuran di hotel gede. Ternyata salah kamar, harusnya kamar seberangnya.”

Di mana ada suka, di situ pun terdapat duka. “Dukanya sedikit yang ikut, terus tariannya kurang beragam, dan gak pernah juara Forsi.” Tutur Kintan. Berbeda dengan Andini, ia merasa sangat nyaman di Amethyst sehingga tidak merasakan kendala apa pun.

“Harapan saya, Amethyst bisa berkembang jauh lebih baik lagi, anggotanya bisa semakin solid lagi, semangatnya selalu terjaga, dan bisa beregenerasi lebih baik lagi ke depannya. Semoga Amethyst bisa selalu jadi tempat yang menyenangkan untuk semua anggotanya.” Tutur Bu Keke penuh harap. Begitu juga dengan Andini dan Kintan, berharap bahwa Amethyst ke depannya akan terus berkembang lebih baik lagi.

 

(Amanda Zasya Adlyn/Geocentric)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.