Dari Praktikum Luring Kita Belajar untuk Menurut dan Mulai Berhemat

Mulai tanggal 24 Mei 2021, Fakultas Teknik Geologi (FTG) telah mengadakan praktikum secara luring atau offline. Para mahasiswa FTG tentu saja bersuka cita dengan adanya berita tersebut. Maklum, mereka semua merindukan keadaan kampus yang telah lama mereka tinggalkan. Namun, para mahasiswa harus menelan kekecewaan mereka karena harus melakukan rapid test secara mandiri. Artinya, pihak kampus sama sekali tidak mau repot-repot membiayai rapid test para mahasiswa. Kabar tersebut berhembus secara cepat dan mendapatkan berbagai pendapat kontra. Apakah UKT yang telah mahasiswa bayar hanya membiayai rapid test untuk pihak Unpad saja? Namun, di sisi lain, mahasiswa seharusnya bersyukur, karena pihak kampus saja sudah berbaik hati mengizinkan para mahasiswa FTG untuk melakukan kegiatan secara luring di tengah pandemi yang tidak menentu ini. Masak harus direpotkan lagi dengan membiayai rapid test para mahasiswa yang bandel karena tidak taat protokol kesehatan tersebut?

Suasana praktikum di Laboratorium Petrologi dan Mineralogi saat pandemi (Maulana Raihansyah/Geocentric)

Pendapat kontra pertama dilayangkan oleh Andika Riovaldi Pramudya Finschi, Kepala Divisi Advokasi Pelayanan Mahasiswa (APM) BEM KM HMG FTG Unpad. Dia mengatakan bahwa masih belum mendengar wacana mengenai Unpad membiayai rapid test untuk para mahasiswa FTG. Andika hanya mendengar berita mengenai vaksin yang pasti akan diberikan kepada seluruh mahasiswa Unpad. Bila skenario tersebut benar-benar terjadi, pihak FTG akan mengadvokasikan terlebih dahulu kepada pihak Unpad. Menurutnya, bila situasi tersebut benar-benar terjadi akan menjadi suatu hal yang tidak adil dari pihak Unpad kepada pihak FTG. Solusi yang Andika berikan ialah mempertanyakan ke pihak dekanat apakah mereka bisa menggantikan biaya rapid test yang harusnya diberikan oleh Unpad atau tidak karena mempertanyakan situasi tersebut adalah kewenangan masing-masing mahasiswa yang berhak mendapat bantuan biaya.

Pendapat lainnya diutarakan oleh Daffa Hafizh Ananta, Koordinator dari HMG 2018, Dia mengatakan bahwa info yang dia dengar sejauh ini adalah Unpad tidak membiayai rapid test untuk para mahasiswa FTG dikarenakan untuk pembiayaan ini sifatnya bebas. Yang dimaksud bebas adalah bila ingin melakukan praktikum di gedung kampus maka harus melakukan rapid test terlebih dahulu dan membayarnya sendiri, sedangkan jika tidak melakukan praktikum maka tidak harus melakukan rapid test.

Hal senada juga diutarakan oleh Muhammad Arkan Lamiday, Koordinator dari HMG 2019. Arkan mengatakan bahwa Unpad membiayai rapid test untuk FTG, tetapi hanya membiayai untuk kegiatan pelantikan HMG 2020. Namun, untuk kegiatan lain seperti PGP (Pemetaan Geologi Pendahuluan) dan praktikum, rapid test bersifat bebas dan dilakukan secara mandiri. Menurutnya, segala kegiatan yang dilakukan di Unpad seharusnya dibiayai oleh Unpad, seperti rapid test. Hal tersebut dikarenakan bantuan dari Unpad sangatlah membantu untuk semua mahasiswa FTG, apalagi bagi mereka yang tidak mendapatkan penurunan biaya UKT. Dengan kata lain, Unpad seharusnya membiayai rapid test tersebut tanpa mempengaruhi biaya UKT semua mahasiswa FTG.

Seorang praktikan di Laboratorium Petrologi dan Mineralogi (Amanda Zasya Adlyn/Geocentric)

Evan Faiz Danendra, Kepala Asisten Laboratorium Paleontologi FTG, mengatakan bahwa para praktikan dan beberapa asisten laboratorium (aslab) membiayai rapid test menggunakan uang mereka sendiri dikarenakan dari fakultas tidak ada info mengenai rapid test akan dibiayai oleh fakultas atau tidak sehingga menyebabkan timbul banyak pertanyaan mengenai situasi tersebut. Solusi yang dia berikan dalam situasi seperti itu adalah menyarankan FTG untuk lebih transparan mengenai alur keuangan fakultas. Bila masih ada sisa uang dari fakultas maka sisa uang tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rapid test mahasiswa FTG, terutama biaya UKT yang telah kita bayarkan yang seharusnya disisihkan untuk dijadikan biaya rapid test juga. Rapid test yang dibiayai oleh Unpad ini sangat penting, setidaknya bisa mengurangi beban pengeluaran para mahasiswa. Terutama untuk para mahasiswa dari luar Pulau Jawa yang susah payah datang ke Unpad dengan biaya tiket yang lumayan mahal dan harus melakukan rapid test dari kantung mereka sendiri.

Melihat berbagai pandangan yang dilayangkan oleh berbagai pihak, sebenarnya isu Unpad tidak mau membiayai rapid test tidak sepenuhnya benar. Buktinya, Unpad telah membiayai rapid test untuk FTG dalam kegiatan pelantikan HMG 2020. Namun, untuk kegiatan lain seperti praktikum di gedung fakultas, para mahasiswa diharuskan melakukan rapid test secara mandiri. Dari pihak fakultas sendiri harusnya mempertanyakan ke rektorat apakah mereka bisa menggantikan biaya rapid test yang harusnya diberikan oleh Unpad atau tidak. Hal tersebut dikarenakan adanya hak untuk para mahasiswa mempertanyakan situasi tersebut agar mendapat biaya bantuan rapid test yang sudah termasuk dalam biaya UKT yang diserahkan. Seharusnya, sih, begitu…

Melihat polemik yang berkembang di lingkungan FTG, sudah sepantasnya kita menerima berbagai keputusan yang telah ditetapkan oleh pihak kampus secara lapang dada. Malah, seharusnya kita bersyukur karena pihak kampus tidak tutup telinga dan masih mau mendengarkan kemauan kita yang rewel ini. Untuk masalah dana, bukankah hal yang kecil bagi kita untuk membiayai rapid test yang harganya tidak seberapa itu. “Buat nongkrong saja bisa, masak buat ikut rapid test gak bisa?” mungkin seperti itu yang ada di dalam benak pihak kampus. Ya mau bagaimana lagi, sudah seharusnya kita untuk menurut dan mulai berhemat, bukan?

 

(Muhammad Sulthan Afif/Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published.