Nyambi, Budaya Baru Mahasiswa di Masa Pandemi

“Gaiss, ntar gua izin double device ya”

“Punteun, tadi ngebahas apa ya, ini gua lagi nyambi di rapat sebelah soalnya”

Ilustrasi Rapat Virtual (concensus.com)

Banyak dari kita pernah menemukan orang-orang seperti ini, atau malah mungkin kitalah salah satunya. Di masa pandemi seperti ini tidak sedikit orang yang mengikuti banyak kegiatan/rapat sekaligus karena pelaksanaannya dapat dilakukan bersamaan secara daring.

Lalu kenapa banyak orang melakukan multitasking seperti ini? Apakah untuk menghemat waktu saja, atau memang kebetulan jadwal acara-acara tersebut bentrok? Apakah benar, multitasking ini seefisien dan seefektif itu? Bagaimana dengan kasus orang yang ternyata cuma hadir di Zoom tanpa memperhatikan apa-apa karena sibuk di acara lainnya. Atau bahkan, ada yang tidak memperhatikan sama sekali semua acara yang dia ikuti.

Muhammad Nur Akbar Sugiharto, Koordinator HMG 2020, berkicau dalam akun Twitter pribadinya mengenai masalah multitasking ini.

Twitter @akbarsoegiharto

Akbar mengatakan ia menulis tweet itu karena melihat teman-teman di angkatannya masih banyak yang harus double device karena banyaknya kegiatan di waktu yang sama. Dan hal ini berdampak pada teman-temannya yang kurang bisa merespon dan menangkap materi pembahasan ketika rapat.

Akbar sendiri menceritakan pengalamannya “nyambi” ketika ia mengikuti kegiatan angkatan dan first meet Divisi Senbora Kabim Unpad sekaligus. Alih-alih menghemat waktu, saat itu Akbar malah gagal menangkap pembahasan kedua kegiatan tersebut. Sejak saat itu ia lebih memilih untuk fokus di satu kegiatan saja dan meminta catatan penting mengenai kegiatan yang lainnya.

Cerita lain datang dari Naufal Sabillana Rabbani, HMG 2020, yang sedang bekerja paruh waktu sebagai barista sejak awal Januari 2021. Ia bercerita karena sistem kerjanya part time, ia jadi bisa lebih fleksibel dalam mengatur waktunya. Naufal mengaku sedikit terganggu ketika “nyambi” antara kegiatan kuliah dan kerja, tetapi masih bisa fokus dengan pembahasan saat rapat.

Setelah mendengar dua pengalaman tadi, mari kita lihat multitasking ini dalam sudut pandang psikologi. Melalui Google Meet, saya berkesempatan untuk mewawancarai Siti Laila Ramdaniah, Mahasiswi Psikologi Unpad 2018. Teh Ela, begitu saya memanggilnya, menerangkan bahwa multitasking ini masuk pada psikologi kognitif.

“Dalam perspektif psikologi kognitif, multitasking adalah saat atensi kita terbagi ke banyak pekerjaan sekaligus,” terang Teh Ela. Atensi yang dimaksud oleh Teh Ela di sini adalah fokus kita dalam melakukan suatu pekerjaan. Hakikatnya, kita pasti akan menaruh atensi kita pada pekerjaan yang kita kerjakan, dan ketika kita ber-multitasking kita akan membagi sekian persen atensi kita ke beberapa pekerjaan yang berbeda. Karena itulah fokus kita cenderung berkurang saat kita ber-multitasking.

Otak Saat Melakukan Multitasking (Twitter @TheSocialBrain)

Lalu sampai batas mana kita bisa membagi atensi kita? Hal ini tergantung pengalaman dan pengetahuan tiap orang. Teh Ela menambahkan bahwa memungkinkan bagi kita untuk membagi atensi pada pekerjaan yang sulit dan pekerjaan yang mudah sekaligus. Seperti halnya ketika kita membuat catatan sambil makan camilan. Membuat catatan bisa dibilang pekerjaan yang sulit sedangkan makan camilan masih terhitung pekerjaan ringan. Jadi kedua hal tersebut masih memungkinkan kita lakukan bersamaan. Akan tetapi, akan sulit bila kita membagi fokus kepada dua hal berat sekaligus.

“Misalkan waktu kita nyetir mobil sambil menelpon, karena kedua pekerjaan tersebut kan butuh atensi yang lebih jadi bakal sulit dilakukan. Itulah kenapa ada peringatan untuk tidak berkendara sambil menelpon,” tambah Teh Ela.

Lalu bagaimana dengan mengikuti dua acara/rapat sekaligus? Jelas, kedua hal tersebut membutuhkan fokus yang tinggi dan agaknya tidak memungkinkan untuk dilakukan.  Sebagai orang yang mengetahui teori tersebut, Teh Ela juga tidak suka melakukan “nyambi” seperti itu dan lebih memilih untuk fokus pada salah satu rapat saja dan cuma hadir sebagai formalitas saja di rapat yang lain.

“Bayangkan, logikanya kalau di rapat ini ngebahas hal penting terus di rapat satu lagi juga ngebahas hal penting, mau ga mau kan pasti bakal ada missing link dari apa yang kita tangkap. Buat manusia normal melakukan kedua hal seperti itu barengan itu cukup sulit.” ujar Teh Ela.

Multitasking tidak serta merta buruk. Seperti penjelasan Teh Ela tadi, kita masih memungkinkan untuk mengerjakan pekerjaan berat dan ringan sekaligus. Hal positif yang bisa kita dapatkan dari multitasking ini salah satunya ialah efisiensi waktu. Tentu melakukan dua pekerjaan sekaligus akan menambah produktivitas kita. Seperti halnya kita bisa izin makan malam sambil menyimak rapat.

Meskipun begitu, kita sebagai mahasiswa tidak bisa mengabaikan bagaimana dampak negatif dari multitasking ini. Bila kita rangkum dari ketiga narasumber, multitasking dapat berdampak pada penurunan fokus kita saat mengikuti kegiatan dan akhirnya akan mempengaruhi kinerja kita sehingga tidak maksimal.

Melihat dari dampaknya, maka sebisa mungkin kita dianjurkan untuk menghindari multitasking. Atau setidaknya, kita harus bisa melakukan multitasking dengan efektif. Di akhir sesi wawancara, masing-masing narasumber mencoba memberi tips, yang kurang lebih sama, mengenai bagaimana melakukan multitasking dengan tetap efektif.

Pertama, kita harus tahu batas diri kita masing-masing. Jangan sampai karena merasa mampu kita malah kerepotan sendiri saat mengikuti beberapa kegiatan sekaligus dan akhirnya malah tanggung jawab kita tidak terpenuhi. Kedua, mulailah melatih kemampuan manajemen waktu. Beranilah berkata tidak pada acara lain jika kamu sudah punya jadwal lain di waktu tersebut. Terakhir, belajarlah mengatur skala prioritas. Usahakan ikuti saja acara yang memang kamu punya peran penting di situ.

Jadi pada akhirnya, efektif atau tidaknya multitasking kembali bergantung pada diri kita masing-masing. Kita harus pandai-pandai dalam memposisikan diri dan pekerjaan kita. Kita masih bisa tetap produktif di masa pandemi ini tanpa harus memaksakan diri mengikuti banyak kegiatan sekaligus. Karena tetap, kesehatan kitalah yang terpenting.

 

(Iqbal Parikesit/Geocentric)

Leave a Reply

Your email address will not be published.