Feminisme dan Peranan Perempuan di Mata HMG Unpad

Gambar 1. Ilustrasi Para Aktivis yang Memperjuangkan Gerakan Feminisme
(Sumber: unsplash.com)

Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Nanti ujung-ujungnya juga ke dapur lagi.

Mungkin beberapa orang pernah mendengar istilah yang seringkali diucapkan kepada para perempuan saat mengejar karir dan cita-cita tersebut. Istilah di atas merupakan salah satu contoh bentuk diskriminasi kepada para perempuan di masyarakat. Bentuk-bentuk diskriminasi dan pembatasan tersebut lah yang kemudian mendorong lahirnya gerakan feminisme. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), feminisme (fe·mi·nis·me/ /féminisme/) merupakan gerakan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Feminisme secara umum merupakan suatu gerakan sosial, politik, dan ideologi yang bertujuan untuk mendefinisikan, membangun, dan menciptakan kesetaraan gender dalam bidang politik, ekonomi, individu, dan sosial. Upaya yang dilakukan oleh para feminis ditujukan untuk memerangi stereotip gender dalam masyarakat agar menciptakan peluang dalam berbagai bidang kehidupan yang setara antar gender. Alasan mengapa banyak aktivis yang memperjuangkan gerakan ini adalah karena budaya patriarki yang membuat para wanita tidak dapat mengembangkan karir secara bebas kini dianggap kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Dalam budaya tersebut para pria dianggap memiliki kontrol utama atas keberlangsungan hidup suatu masyarakat, sedangkan wanita hanya memiliki sedikit atau tidak sama sekali peran dan kontrol. 

Hingga kini, budaya patriarki secara tidak sadar telah mengakar ke dalam pikiran masyarakat, contohnya laki-laki dianggap lebih bisa memimpin suatu organisasi, perempuan tidak boleh memakai pakaian dengan bebas, perempuan haruskan mengikuti keputusan yang diambil oleh laki-laki, dan beberapa jenis pembatasan lainnya. Hal tersebut juga dapat ditemukan di dunia pendidikan, misalnya keberadaan stereotip yang menyatakan bahwa perempuan tidak cocok menekuni bidang ilmu tertentu, seperti berada di jurusan teknik yang mayoritas  dipilih oleh laki-laki. Anggapan ini muncul karena hal-hal yang berbau teknik dianggap “keras” dan lebih berasosiasi dengan laki-laki.

Para putri HMG  yang  ikut memeriahkan acara Arak-arakan (Iqbal Parikesit/Geocentric)

Menilik stereotip-stereotip di atas, sekarang mari kita bandingkan dengan kondisi masyarakat di ruang lingkup Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Sebagai salah satu fakultas teknik, sejauh ini hal-hal yang dianggap membatasi atau membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan setiap kegiatan di dalam himpunan sudah diminimalisir. Pada dasarnya, memang kegiatan yang berhubungan dengan kegeologian membutuhkan tidak hanya kemampuan analisis secara teoritis, tapi juga ketahanan fisik yang kuat karena banyak yang harus dilakukan langsung di lapangan. Di sini kemampuan kaum perempuan diuji sama beratnya dengan para lelaki. Para perempuan dituntut harus memiliki ketahanan fisik dan kemampuan lapangan yang baik. Populasi mahasiswa perempuan yang cukup banyak kini bisa menjadi bukti bahwa perempuan pun bisa memiliki peran yang sama dalam berbagai kegiatan. Walau begitu, nyatanya masih ada beberapa hal yang terkesan masih membeda-bedakan gender di beberapa kesempatan, sehingga seringkali membuat perempuan terlihat lebih lemah.

“Sepertinya secara umum masalah yang membatasi peran perempuan di HMG gak ada. Tapi, sikap seperti adanya perbedaan perlakuan kadang kerasa berlebihan aja. Contoh kasusnya kayak berkembangnya istilah tentang putri harus selalu dijaga. Itu terkadang ganggu sih,  karena banyak perempuan yang sebetulnya bisa independen, tapi hal itu malah bikin seolah perempuan terlihat lemah. Kalau peran perempuan di himpunan sendiri banyak sih, kayak orang-orang yang megang jabatan juga cukup banyak yang perempuan di himpunan,” ujar Siti Munawaroh (HMG 2019). 

Selain dalam kegiatan di lapangan, kini peran perempuan maupun laki-laki di himpunan disadari sama pentingnya dalam keberlangsungan kegiatan dan pengembangan organisasi. Walau masih didominasi kaum lelaki, sejak dulu para perempuan di HMG juga sudah dipercaya untuk memegang jabatan yang tinggi di lembaga. Bukan tanpa alasan, tentu hal tersebut dilakukan karena adanya kesadaran bahwa kemampuan perempuan dalam memimpin pun tak kalah dengan para lelaki asalkan diberi kesempatan. Kompetisi yang para perempuan tempuh untuk bisa memegang jabatan yang mereka inginkan pun sama, karena seringkali kompetitornya didominasi lelaki. 

“Kalau menurutku, kontribusi perempuan di HMG tuh banyak, misalnya bisa jadi petinggi lembaga di himpunan, di mana perempuan jadi ketua lembaga tuh jarang ada di geologi. Bahkan dekan FTG yang sekarang juga perempuan. Kalau seorang perempuan aja bisa jadi petinggi di Fakultas Teknik Geologi yang identik dengan pekerjaan laki-laki, berarti memang tidak diragukan lagi kalau perempuan juga mampu berkontribusi besar dalam himpunan maupun masyarakat secara luas,” kata Amanda Zasya Adlyn (HMG 2019), ketua Lembaga Jurnalistik; Geocentric, sekaligus satu-satunya ketua lembaga perempuan di himpunan tahun ini. 

Tak sampai di situ, perempuan juga ternyata bisa ikut berperan aktif dalam organisasi yang terkenal “keras” seperti HSE (Health Safety Environment) dan MAAR (Mahasiswa Pecinta Alam Dan Rimba). Walau perbedaan perlakuan terhadap perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam bentuk latihan dan semacamnya masih ada, tapi untuk urusan kemampuan untuk menjalankan setiap kegiatan serta mengembangkan organisasi, tak peduli apa gendernya, semua orang harus setara. Biarpun tuntutan yang diberikan agak berbeda, bukan berarti perempuan tidak diberi kesempatan untuk punya kemampuan yang sama dengan para lelaki. Buktinya, di kegiatan apapun perempuan tetap diikutsertakan. Tidak ada kegiatan yang dikhususkan untuk laki-laki atau perempuan saja. 

Keterlibatan para perempuan anggota HSE dalam berbagai kegiatan yang menunjukkan adanya kesetaraan gender (Raisha Azalia/HMG 2019)

“Jadi anggota MAAR sendiri memang keras, tapi kalau buat perempuan sendiri gak dilatih sekeras laki-laki. Perempuan juga gak terlalu dipaksa untuk meraih goals tertentu, misalnya harus bisa panjat tebing dan semacamnya. Tapi,  sejauh ini tidak ada batasan bagi anggota perempuan untuk bisa berkembang, bahkan kalau mau memegang jabatan tertentu pun diperbolehkan. Jabatan setinggi Raja Rimba (Rarim) pun gak ada ketentuan harus laki-laki,” ungkap Halimah Nurzakiyyah (HMG 2020).

“Selama bergabung di HSE sebenarnya aku merasa sama rata aja antara perempuan dan laki-laki. Tapi, mungkin untuk di masa-masa awal masih ada hal yang aku  kurang setuju, misalnya  di bagian harus laki-laki yang membonceng perempuan ketika pergi ke suatu tempat pakai kendaraan, gak boleh perempuan membonceng perempuan lagi. Untuk poin tentang kesetaraan gendernya,  justru aku malah merasa di lingkup HMG-nya sendiri yang agak kurang,” menurut keterangan Mahda Afiah (HMG 2020).

Selain dari bukti-bukti di atas terdapat contoh lain yang membuktikan bahwa perempuan HMG kini sudah berani untuk speak-up dan terbuka dalam memperjuangkan hak-hak yang setara dengan laki-laki. Dea Salsabila (HMG 2019) membuktikan hal itu dengan terpilihnya ia menjadi Vice Head HR Girl Up Unpad. Sebuah komunitas yang aktif menyuarakan isu mengenai kesetaraan gender dengan mengadvokasikan isu-isu gender, orientasi seksual, ras, dan banyak lainnya. Saat ini pun warga HMG sendiri semakin melek dan terbuka untuk menyediakan ruang bagi para perempuan berkontribusi di himpunan dalam bentuk acara, seperti diadakannya HMG Meet Up x Kartini’s Day dan dibuatnya konten yang memuat peran perempuan berupa Woman & Geology Podcast. 

Terlepas dari adanya pengaruh buruk dalam perbedaan perlakuan, kenyataannya saat ini budaya patriarki yang membentengi para perempuan di masyarakat sendiri sudah jauh berkurang. Adanya perkembangan teknologi dan informasi telah membuka pikiran orang-orang bahwa peran perempuan sama pentingnya dengan laki-laki dalam berkontribusi di masyarakat. 

(Riza Rohmatul Haitami/Geocentric)




Sumber:

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2022. Arti kata feminisme. [Online]
Tersedia di: https://kbbi.web.id/feminisme
[Diakses 12 Mei 2022]


Melati, N.K., 2019.
Apa yang Perlu Diketahui Tentang Dasar-Dasar Feminisme. [Online]
Tersedia di: https://baktinews.bakti.or.id/artikel/apa-yang-perlu-diketahui-tentang-dasar-dasar-feminisme
[Diakses 13 Mei 2022]


Neutron Yogyakarta, 2020.
Feminisme. [Online]
Tersedia dit: https://www.neutron.co.id/info/feminisme
[Diakses 12 Mei 2022]

 

Walters, Margaret. Feminism: A Very Short Introduction. Oxford University Press, 2005.

 

Warga Jogja, 2022. Girl Up UGM: Ruang Aman untuk Mahasiswa Perempuan dan Minoritas Gender. [Online]
Tersedia di: http://wargajogja.net/komunitas/girl-up-ugm-ruang-aman-untuk-mahasiswa-perempuan-dan-minoritas-gender.html
[Diakses 27 Mei 2022]

Leave a Reply

Your email address will not be published.